Translate

Rabu, 09 Januari 2013

MAKALAH PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 PETANAHAN LEWAT KEGIATAN PRAMUKA


PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS XI
SMA NEGERI 1 PETANAHAN LEWAT KEGIATAN PRAMUKA
Proposal Skripsi ini di Susun untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester
Mata Kuliah Metodologi Penelitian
yang Diampu oleh Aris Hidayat S,Pd.



Disusun oleh:
                      Nama   :Murniasih

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA JAWA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UN IVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2011
BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Santosa (2005: 626) menyatakan bahwa berbicara dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial karena berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan factor-faktor fisik, psikologi, neirologis, dan linguistik secara luas. Berbicara menurut Valette adalah kemampuan berbahasa yang bersifat sosial. Berbicara merupakan aspek keterampilan berbicara kedua setelah menyimak. Berbicara banyak macamnya antara lain berbicara berdasarkan tujuannya, situasinya, cara penyampaiannya, dan berdasarkan jumlah pendengarnya.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa untuk menciptakan suasana dan lingkungannya belajar mengajar yang baik, sehat, menyenangkan, budaya dan berhasil guna. Suatu proses interaksi ditandai oleh adanya keterlibatan secara positif dan aktif, baik dari guru maupun dari siswa. Proses keterlibatan ini sangat tergantung oleh guru dalam membuat perencanaan, pengolahan, dan evaluasi. Setelah itu menyampaikannya, dengan kata lain guru harus mampu mengajar secara tepat, sehingga KBM tidak membosankan melainkan memberikan kesenangan, minat, dan kebahagiaan pada siswa.
Kegiatan belajar mengajar sebagai proses operasional pendidikan yang berlangsung di dalam kelas merupakan suatu proses yang cukup sulit, sebab mengajar tidak sekedar upaya pengubahan tingkah laku tetapi juga merupakan suatu upaya yang dilakukan guru dalam merangsang siswa agar mau belajar. Impikasinya, tugas guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik, Pembina dan pelatih.
Bahasa merupakan alat komunikasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa memiliki sifat-sifat yang khas. Sifat-sifat itu yakni, sistematik, manasuka, ujar, manusiawi, dan komutatif (Santosa, 2005:12). Bahasa mengungkapkan hal yang nyata atau tidak, yang berwujud atau tidak berwujud, situasi dan kondisi lampau, kini dan yang akan datang. Ujaran inilah yang membedakan manusia dari mahluk lainnya. Bahasa berfungsi untuk informasi, ekspresi, adaptasi dan integrasi serta kontrol sosial.
Keterampilan berbicara kurang dikembangkan oleh guru dalam pembelajaran, karena teknik pembelajaran yang digunakan guru yaitu ceramah, diskusi dan penugasan kurang menarik dan kreatif.
Pembelajaran berbicara yang dilaksanakan di Sekolah ini tidak untuk mencetak siswa menjadi orator. Namun, pembelajaran berbicara ini dimaksudkan untuk melatih siswa supayab terbiasa mengembangkan kemampuan berbicara, dalam hal ini kemampuan berbicara yang baik.. Salah satu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi hal tersebut dengan menggunakan kegiatan pembelajaran yang lebih memberikan kebebasan pada siswa untuk menyampaikan ide-ideya. Sebuah kegiatan yang dapat digunakan merealisasikan hal tersebut dalam pembelajaran berbicara adalah kegiatan pramuka.
Sebagai sebuah kegiatan, kepramukaan memiliki berbagai ragam metode dalam upaya mengembangkan pengetahuan minat dan bakat yang dimiliki oleh siswa. Mengingat banyak persamaan tujan antara kegiatan kepramukaan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah maka sangat memungkinkan menerapkan metode kepramukaan dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara.

B.     IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut.
1.      Apa sajakah kendala-kendala yang dihadapai guru dan siswa kelas XI  SMA Negeri 1 Petanahan dalam pembelajaran keterampilan berbicara.
2.      Apa sajakah kendala-kendala yang dihadapai guru dan siswa kelas XI  SMA Negeri 1 Petanahan dalam penerapan kegiatan kepramukaan.
3.      Apakah kegiatan pramuka dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas XI SMA Negeri 1 Petanahan.
4.      Bagaimana peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas XI SMA Negeri 1 Petanahan lewat kegiatan pramuka.

C.     PEMBATASAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, agar hasil penelitian yang dicapai dapat semaksimal mungkin dan lebih fokus maka penelitian dibatasi pada peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas XI SMA Negeri 1 Petanahan lewat kegiatan pramuka.

D.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, maka didapatkan rumusan maslah bagaimana meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas XI SMA Negeri 1 Petanahan lewat kegiatan pramuka?

E.     TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut:
1.      Mendiskripsikan proses pembelajaran berbicara dengan kegiatan pramuka.
2.      Pengembangan kemampuan berbicara pada siswa siswa kelas XI SMA Negeri 1 Petanahan melalui strategi kepramukaan

F.      MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat teoritis maupun praktis.
1.      Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap kemampuan dan pemahaman pembaca tentan pembelajaran berbicara, kegiatan kepramukaan dan pemanfaatan metode kepramukaan untuk meningkatkan kemampuan berbicara.
2.      Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca.
a.       Bagi siswa bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan berbicara dengan menggunkan metode kepramukaan.
b.      Bagi mahasiswa calon guru mendapatkan pengalaman dan pengetahuan menerapkan metode kepramukaan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa.
c.       Bagi sekolah diharapkan dapat menerapkan metode ini di setiap kelas XI dan kelas yang memiliki masalah kemampuan berbicara siswanya.
d.      Bagi penbelitian dan usaha pengembangan lebih lanjut, hasil penelitian ini bisa sebagai bahan masukan dan bahan penelitian tentang metode kepramukaan relevansinya dengan upaya peningkatkan kemampuan berbicra siswa.
G.    BATASAN ISTILAH
1.      Peningkatan dalam penelitian ini diartikan sebagai perubahan keadaan tertentu ke keadaan yang lebih baik.
2.      Kemampuan berbicara adalah kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan gagasan, dan perasaan, dan pikiran secara lisan.
3.      Kegiatan pramuka dalam penelitian ini diartikan menerapkan metode kepramukaan dalam kegiatan belajar mengajar meningkatkan berbicara siswa.
4.      Metode kepramukaan adalah cara memberikan pendidikan kepada siswa melalui kegiatan disesuaikan dengan keadaan siswa.
5.      Gerakan Pramuka adalah nama organisasi pendidikan luar sekolah yang menggunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan.
6.      Pramuka adalah anggota kegiatan pramuka terdiri dari anggota muda dan anggota dewasa.


BAB II
KAJIAN TEORI

A.    PEMBELAJARAN BERBICARA
1.      Hakikat Berbicara
Berbicara dapat diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau untuk menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan (Brown dan Yule, 1983). (Santosa: 626) menyatakan bahwa berbicara sering dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial karena berbicara merupakaan suatu bentuk perilaku manusia yang menanfaatkan factor-faktor fisik, psikologi, neurologis dan linguistik secara luas.
Seseorang dapat membaca atau menulis secara mandiri, dapat menyimak siaran radio sendiri. Tetapi, sangatlah jarang, orang melakukan kegiatan berbicara sendiri tanpa hadirnya orang kedua sebagai pemerhati atau penyimak. Oleh karena itu, Valette (1977) berpendapat bahwa berbicara merupakan kemampuan berbahasa yang bersifat sosial.

2.      Klasifikasi Berbicara
Klasifikasi berbicara dapat dilakukan dengan berdasarkan tujuannya, situasinya, cara penyampaiannya dan jumlah pendengarnya. Rinciannya adalah sebagai berikut:
a.       Berbicara Berdasarkan Tujuaannya
1)      Berbicara Memberitahukan, Melaporkan  dan Menginformasikan.
kegiataan berbicara seperti ini sering dilakukan orang dalam kehidupan sehari-hari.
2)      Berbicara Menghibur
Berbicara untuk menghibur biasannya dilakuakn oleh para pelawak dalam suatu pentas.
3)      Berbicara Membujuk, Mengajak, Meyakinkan Atau Menggerakkan
Berbicara untuk tujuan membujuk, mengajak, meyakinkan atau menggerakkan dilakukan jika seseorang ingin membangkitkan inspirasi, kemauan atau membangkitkan semangat belajar siswanya melalui nasihat-nasihat. Kegiatan berbicara seperti ini termasuk kegiatan berbicara untuk mengajak atau membujuk.
b.      Berbicara Berdasarkan Situasinya.
1)      Berbicara Formal
Dalam situasi formal, pembicara dituntut untuk berbicara secara formal. Misalnya seramah atau wawancara.
2)      Berbicara Informal
Dalam situasi informsl, pembicara harus berbicara secara tidak formal, pembicara hendaknya bersikap rileks, santun dan tenang, misalnya bertelpon.
c.       Berbicara Berdasarkan Cara Penyampaiaanya.
1)      Berbicara Mendadak
Berbicara mendadak terjadi jika seseorang tanpa direncanakan sebelumnya harus berbicara di muka umum.
2)      Berbicara Berdassarkan Catatan
Pembicara menggunakan catatan kecil pada kartu yang telah disiapkan sebelumnya dan telah menguasai meteri pembicaraannya sebelum tampil di muka umum.
3)      Berbicara Berdasarkan Hapalan
Pembicara menyiapkan dengan cermat dan menulis dengan lengkap nahan pembicaraannya.
4)      Berbicara Berdasarkan Naskah
Penyampaian dari naskah biasanya dilaksanakan pada saat-saat yang snagat penting dan sering kali digunakan untuk siaran-siaran radio atau televise (Tarigan, 1981:25).
d.      Berbicara Berdasarkan Jumlah Pendengarnya
1)      Berbicara Antar Pribadi
Berbicara antar pribadi jika dua orang berbicara sesuatu.
2)      Berbicara dalam Kelompok Kecil
Pembicaraan seperti ini terjadi antara pembicara dengan kelompok kecil pendengar (3 – 5 orang)
3)      Berbicara dalam Kelompok Besar
Jenis pembicara seperti ini terjadi bila pembicara menghadapi pendengar yang berjumlah besar.

 3.      Pendekatan dalam Pembelajaran Berbicara
Istilah pembelajaran erat kaitannya dengan belajar. Pembelajaran disebut juga kegiatan instruksional saja, yaitu usaha untuk mengelola lingkngan dengan sengaja agar seseorang belajar berprilaku tertentu dalam kondisi tertentu.
Pembelajaran menurut Djojosuroto (2005:63) adalah interaksi mengajar dan belajar. pembelajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi pengajar dan pembelajaran. Diantara keduannya terdapat hubungan atau komunikasi inetraktif.
Berbicara sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa agar siswa dapat berbicara dengan baik, dibutuhkan suatu pembelajaran berbicara yang efektif dibutuhkan suatu pendekatan yang relefan yaitu pendekataan komunikatif.
Selama ini dalam pembelajaran berbicara di sekolah guru menggunakan ceramah, diskusi, dan penugasaan. Dalam pembelajaran tugas tersebut guru memberikan tugas kepada siswa untuk berbicara dengan tema ditentukan oleh guru atau siswa menentukan sendiri dan waktu yang terbatas. Pembatasan waktu tersebut menjadikan siswa tidak dapat menyelesaikan tugas yan g diberikan oleh guru yaitu berbicara,
Dengan pendekatan komutatif dapat membantu untuk mengungkapkan idea tau gagasannya.

B.      MACAM-MACAM METODE DALAM BERBICARA
Sebagai sebuah kegiatan, berbicara memiliki beragam metode. Menurut Santosa (2005:229) ada sembilan metode yaitu metode diskusi, inquri, sosio drama, tanya jawab, penugasan, latian, bercerita, pemecahan masalah, dan metode karya wisata.
Dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara siswa, guru tidak terbatas pada sembilan metode, tetapi berusaha senantiasa menemukan metode yang lebih relevan yaitu melalui kegiatan lain yang tujuan yang sama dengan kegiatan belajar mengajar khususnya pembelajaran berbicara.
bentuk kegiatan yang memiliki banayk persamaan tujuan dengan proses belajar mengajar salah satunya adalah kegiatan kepramukaan, maka sangat memungkinkan menerapkan metode kepramukaan dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara.
Metode Kepramukaan merupakan cara memberikan pendidikan watak kepada siswa melalui kegiatan kepramukaan yang menarik, menyenangkan, dan menantang yang disesuaikan dengan kondisi, situasi, dan kegiatan siswa  (lemdiknas, 2004:13). Dengan demikian, kegiatan kepramukaan merupakan bekal yang berharga bagi pendidik mental siswa.
Berpijak pada pendapat di atas dapat dikatakan bahwa metode kepramukaan dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara adalah sebuah cara melatih siswa dalam berbicara denagn memanfaatkan kegiatan kepramukaan yang menarik, menyenangkan dan memperkaya kreativitas siswa dalam meningkatkan kemampuan berbicara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar